Cerita Sedih terjemahan

Khafidhotun Nadliroh

Keindahan Kakinya

               Gambaran buruk dari penampilan fisikku yang sering orang-orang pikirkan adalah mereka sering memghinaku karena penampilanku yang berbeda dengan orang pada umumnya. Oleh karena itu mereka sering melempar sampah ke arahku. Ejekan dan hinaan sudah menjadi teman sehari-hariku. Tidak ada seorangpun yang peduli terhadapaku kecuali saudara perempuanku tercinta yang bernama Kim Yoo See. Disisi lain, beberapa orang menaruh iba kepadaku dengan memberi uang atau makanan. Karena hal itu saya masih merasa beruntung meskipun kondisi fisikku yang tidak normal ini.

Kim Lee adalah nama lengkapku, sedangkan Lee adalah nama panggilanku. Aku seorang anak lelaki cacat yang berusia 10th. Di usiaku sekarang seharusnya aku duduk di sekolah dasar tetapi menjadi anak yatim sejak lahir membuatku sulit bertahan hidup.

“Lee…bisakah kamu membantuku di sini! Aku kesulitan mengangkat sekarung tepung ini.” Teriak Yoo See. Dengan berjalan terseok-seok, aku coba menolong saudariku yang bekerja keras di sebuah toko di pinggir rel kereta api. Aku mencoba membantu pekerjaan saudariku dengan senang hati. “Lee, apa kamu baik-baik saja?” Yoo See bertanya kepadaku karena dia melihatku kecapekan serta mencoba menyembunyikan rasa sakit yang luar biasa yang ku rasakan ditubuhku ini.

Kelemahanku adalah tubuhku akan terasa sakit luar biasa ketika kupaksakan untuk bekerja keras. Selama satu minggu aku hanya berbaring di tempat tidur untuk menahan rasa sakit dan menderita karena tidak ada uang untuk membeli obat bahkan membeli makanan untuk dimakan. Yoo See panik melihat kondisiku seperti ini.Tiba-tiba “Prangg…pranggg…!!”suara wajan dan beberapa alat masak yang jatuh membuatku tkut dan jug kaget.

Setiap hari Yoo See bekerja keras demi mendapatkan uang untuk mengobati sakitku, tetapi itu sangat sulit sehingga dia merasa bingung dan putus asa meskipun hanya untu bertahan hidup saja. Karena itu Yoo See memanfaatkanku. Suatu hari, kita keluar rumah di pagi hari. Dia memintaku untuk mendengarkanya tanpa ada keraguan sedikitpun.

Akhirnya aku tahu apa yang dia inginkan dan apa yang harus aku lakukan. Dengan tenang akupun duduk di pinggir jalan sambil meminta belas kasihan orang-orang yang melewati jalan.

Tidak peduli apa yang dia pikirkan, aku mencoba pergi meninggalkanya karena idenya yang hanya mengambil keuntungan dari kondisi fisikku ini.

“Tidak…..tidak kak, aku tidak akan melakukan itu walaupun kamu akan meninggalkanku sendirian di sini.” Aku berkata dengan sedikit mengancam.

Karena sebal, Yoo See meninggalkanku sendirian di tempat sepi. Dalam kegelapan aku duduk sendiri di pinggir jalan tanpa bisa berbuat apa-apa, bahkan bergerak sedikitpun aku tidak bisa karena kondisiku yang sepeti ini.

Untungnya, seorang lelaki tua menghampiriku dan membawaku pulang ke rumahnya. Melihat kondisiku yang seerti ini lelaki tua itu mencoba membantuku dengan mencarikan pembuat kaki palsu. Setelah usahanya dalam satu minggu, lelaki tua itu akhirnya menemukan pembuat kaki palsu tersebut.

Untuk memperoleh ukuran yang sesuai dengan kakiku, pembuat kaki palsu itu mencoba dengan keras membuatkan kaki palsu yang sesuai dengan kakiku.

“Wow…. Astaga, mengagumkan, sekarag aku dapat berjalan tanpa menyusahkan orang lain karena bantuan kaki palsu ini. Hanya pujian pada Tuhan yang bisa aku keluarkan dari mulutku.

Saat aku sudah mampu berjalan dengan kuat, saya mengutarakan keinginanku untuk mencari saudariku, Yoo See, dengan mengelilingi rumah majikanya di samping rel kereta api. Bersama lelaki tua yang telah membantuku meraih kehidupan yang lebih baik, aku menuju tempat itu.

Dengan berjalan berkeliling seharian penuh, aku tidak dapat menemukan saudariku di sana. Aku sangat menhawatirkanya. Kemana selama ini dia pergi?. “Kakak, di mana kau? Aku ingin bertemu denganmu..” air mata mengalir deras di mataku.

Merasa lelah, lelaki tua itu menyuruhku beristirahat sebentar di pinggir jalan. Di keramaian malam yang hiruk pikuk, terdengar seorang gadis manangis dengan pelan tak jauh dari kami. Kamipun menghampirinya karena mungkin dia membutuhkan bantuan. Melihat bentuk matanya, aku teringat pada seseorang. Ternyata…dia kakakku, Yoo See. Akhirnya aku menemukanya, tapi ada seseuatu yang terjadi pada dirinya. Saat meninggalkanku sendirian dalam waktu lama, kakakku telah kehilangan kaki kananya akibat ditabrak mobil, dia akhirnya kehilangan kaki indahnya.

Malang, 10 Juli 2013

Teks asli: Her Leg Beauty ( Rafika Rabba Farah)

Dari majalah ProMag (Progesio Magazine edisi September 2011)

Teks terjemahan: keindahan kakinya (Khafidhotun Nadliroh)

PTK (PENELITIAN TINDAK KELAS)

Malang, 27 Juni 2013

Khafidhotun Nadliroh

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN DALAM MENULIS TEKS REPORT DENGAN MENERAPKAN METODE MIND MAP PADA SISWA

KELAS XI SMA ASSA’ADAH GRESIK

1.1  LATAR BELAKANG

Bahasa Inggris adalah alat untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan karena menggunakan bahasa tersebut merupakan suatu keharusan pada era globalisasi dewasa ini. Departemen Pendidikan Nasional, yang sedang mempersiapkan standar kompetensi dalam kurikulum 2004 menetapkan bahwa kemampuan yang harus dimiliki oleh para siswa Indonesia adalah memahami dan mengungkapkan informasi, fikian, perasaan, serta mengembangkan ilmu pengetahuan, tehnologi dan budaya dengan menggunakan bahasa inggris.

Saat ini pembelajaran bahasa Inggris diarahkan pada pencapaian kompetensi yangtercermin dalam kemampuan siswa melakukan langkah-langkah komunikasi, baik secara lisan maupun tertulis. Pada pengajaran writing, Menulis adalah sebuah proses penyampaian ide, pikiran,dan perasaan lewat sistem bunyi atau huruf yang sudah diakui oleh masyarakat pengguna bahasa. Menurut Gaith (2002) menulis dapat mendorong seseorang untuk mengkomunikasikan pikiran-pikirannya dan membuat pemikiran-pemikirannya tercermin dalam bentuk tulisan. Lebih jauh ia mengatakan bahwa “When thought is written down, ideas can be examined, reconsidered, added to, rearranged and changed”. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu menuangkan ide-ide yang dimilikinya untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Selain itu, meninjau Standar kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris untuk ketrampilan writing seperti yang tertuang dalam kurikulum 2006 adalah ditujukan agar siswa dapat “mengungkapkan berbagai makna (interpersonal, transaksional) dalam berbagai teks lisan interaksional dan monolog terutama yang berbentuk  descriptive, narrative, recount, procedure, dan report ”.

Berdasarkan pengalaman penulis, keterampilan siswa dalam menulis pada mata pelajaran Bahasa Inggris, dalam menulis teks report atau teks lainnya sering mengalami kesulitan, itu terbukti saat siswa diberitugas menulis teks report pada kegiatan akhir proses pembelajaran, siswa yang dapat menyelesaikan tugas menulis sebuah teks report yang tepat waktu dan memenuhi kriteria hanya beberapa siswa saja. Sedangkan siswayang lain tugasnya ada yang baru setengahnya, atau bahkan ada yang baru hanya beberapa kalimat saja. Dari empat kemampuan dasar (four basic skills) bahasa Inggris,yakni  listening, speaking, reading, dan writing . Maka writing -lah yang merupakan skill tersulit diantara semuanya.Kasus seperti itu, sering diungkapkan oleh para pengajar.

Padahal penulis yakin para siswa memiliki ide-ide atau pengalaman yang ingin mereka tuliskan. Biasanya kendala siswa dalam menulis teks report adalah mereka bingung untuk memulai, malu karena bahasa Inggrisnya tidak benar, kurang mengerti apa yang tengah dibahas, dan sebagian dari mereka merasa tidak memiliki banyak ide untuk diungkapkan juga karena minimnya kosa kata yang mereka miliki. Dari kendala yang dihadapi penulis tersebut di atas, maka melalui rencana penelitian tindak kelas ini penulis akan mencoba menggunakan metoda Peta Pikir ( Mind Map) untuk memecahkan masalah kesulitan siswa pada keterampilan menulis teks report . Ada beberapa alas an mengapa penulis tertarik untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas diantaranya adalah memotivasi siswa agar menguasai Vocabulary sebanyak mungkin, Menuangkan setiap pengalaman para siswa yang telah dilaluinya pada masa-masa atau waktu yang telahberlalu dalam bentuk tulisan. Maka untuk memperbaiki kelemahan para siswa dalam menulis teks report, penulis memilih metode Mind Map.

Metode ini akan memudahkan siswa dalam merangkai kalimat demi kalimat walaupun tidak sempurna, diharapkan metode tersebut di atas dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks report serta ada peningkatan yang berarti, sehingga siswa ada motivasi untuk terus mengembangkan dari informasi yang telah mereka peroleh lalu dicatat, disusun secara kronologi, dan disimpulkan sendiri.

1.2  RUMUSAN MASLAH

  1. Bgaimana penerapan metode Mind Map dapat meningkatkan keterampilan menulis teks report siswa kelas XI SMA Assa’adah Gresik?
  2. Apakah penerapan metode Mind Map dapat meningkatkan keterampilan menulis teks report siswa kelas XI SMA Assa’adah Gresik?

1.3  TUJUAN

  • Untuk memperoleh gambaran tentang penerapan metode Mind Map dalam meningkatkan keterampilan menulis teks report siswa kelas XI SMA Assa’adah Gresik.
  • Utuk mengetahui adanya peningkatan keterampilan menulis teks report dengan menggunakan metode Mind Map siswa kelas xi SMA Assa’adah Gresik.

1.4  HIPOTESIS TINDAKAN

Jika siswa kelas XI SMA Assa’adah diajarkan dengan metode Mind Map maka kemampuan menulis teks report akan meningkat.

1.5  KONTRIBUSI PENELITIAN

Guru: sebagai motivasi untuk meningkatkan keterampilan memilih strategi pembelajaran yang sesuai dan bervariasi, sehingga menghasilakn proses pembelajaran yang aktif, inovatif,kreatif,efektif, dan menyenangkan(PAIKEM).

Siswa: Penelitian dengan menerapkan metode pembelajaran Mind Map diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam meningkatkan kemampuan menulis teks report, serta pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Sekolah: hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yng bermanfaat bagi sekolah dengn adanya informasi yang diperoleh, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan kajian bersama agar dapat meningkatkan kualitas seolah.

Peneliti: dapat menambah pengalaman secara langsung bagaimana penggunaan dan cara memilih strategi yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

1.6  BAHASAN ISTILAH

Peningkatan adalah proses, cara, perbuatan meningkatkan usaha, kegiatan, dsb (kamus bahasa Indonesia)

Keterampilan adalah kesanggupan pemakai bahasa untuk menanggapi secara betul stimulus lisan atau tulisan, menggunakan pola gramatikal dan kosakata secara tepat, menerjemahkan dr satu bahasa ke bahasa lain, dsb (kamus bahasa Indonesia)

Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.

Teks report adalah salah satu dari ke-13 jenis teks bahasa Inggris (Types of Text) yang menghadirkan informasi tentang sesuatu seperti alam, hewan, tumbuhan, hasil karya manusia, dan fenomena sosial dengan apa adanya. Informasi yang dihadirkan dalam Report Text adalah hasil dari observasi dan analisis secara sistematis (Fathoni:2012)

Mind map adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini di dasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-otak sel saraf yang berjejer rpi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang bercabang-vabang yang apabila dilihat ekilas akan tampak seperti cabang-cabang phon(Anton,2008)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 KEMAMPUAN MENULIS

Menulis bukanlah semata-mata masalah menstranformasikan “bahasa” ke dalam simbol-simbol tertentu namun lebih merupakan proses berpikir (Sitorus dan Said : 1997:1). Selanjutnya Dagher (1997:1) mendifinisikan bahwa menulis merupakan proses berpikir yang dituangkan diatas kertas dalam bentuk tulisan. Proses berpikir ini mencakup proses bagaimana ide-ide dimunculkan, dan difokuskan pada ide-ide tertentu yang relevan dan saling terkait. Lebih lanjut disebutkan bahwa menulis membutuhkan usaha berpikir yang terus menerus untuk jangka waktu tertentu. Ketika kita menuliskan tiga kalimat atau lebih, kita harus menyusunnya sedemikian rupa sehingga kalimat kalimat tersebut menjadi teks yang menyatu dan koheren.

Salah satu teks yang membutuhkan kemampuan menulis dalam membuatnya adalah teks report. Teks report berfungsi mendeskripsikan tentang cirri-ciri umum dari suatu jenis benda, hidup maupun mati. Penguasaan menggunakan teks sebagai alat komunikasi perlu dilakukan secara terus menerus. Pada saat siswa berusaha menguasai penggunaan teks untuk komunikasi bimbingan dari guru akan membantu mempermudah ataupun mempercepat proses pe-nguasaannya. Oleh karena itu peran guru sangat penting untuk memfasilitasi terhadap usaha siswa membuat dan memahami teks tersebut. Kerja kelompok juga akan memfasilitasi proses belajar individu, sebab siswa yang memiliki penguasaan lebih baik, biasanya juga berpotensi menjadi fasilitator yang efektif.

Dalam kenyataanya, masih banyak siswa SMA yang masih memiliki kesulitan dalam menulis teks report karena penggunaan metode pengajaran yang salah. Mengingat pentingnya penguasaan dalam membuat teks report dengan asumsi bahwa jenis teks ini bukan hanya berpengaruh terhadap perkembangan ketrampilan literasi dalam bahasa Inggris, tetapi juga dalam bahasa Indonesia, dan bahkan bahasa ibu sekalipun, maka penting untuk para siswa menguasai indicator tersebut yang tercermin dari hasil penilaian menulis essay yang telah melampaui KKM.

2.2 MENULIS TEKS REPORT

Teks report bertujuan untuk memberi deskripsi tentang cirri-ciri umum dari suatu jenis benda, hidup atau mati. Hal pertama yang harus diperhatikan siswa dalam menulis teks adalah generic structure dan unsur-unsur leksikogramatika yang menjadi ciri mencolok dari suatu jenis teks tersebut, khususnya mengenai topic yang sedang dibicarakan.

Hal pertama untuk membuat teks report adalah mendefinisikan dan klasifikasinya kemudian diikuti dengan deskripsi yang lebih rinci tentang berbagai hal yang terdapat atau dimiliki benda yang dimaksud.

Pada saat siswa akan memberi definisi pada suatu benda mungkin mereka cukup mengingat secara global benda yang dimaksud dalam arti secara abstrak telah bisa menentukan definisi dan klasifikasinya. Namun pada saat membuat deskripsi mereka perlu mengingat benda tersebut secara detil meliputi nama-nama per bagian, cirri-ciri dan fungsinya, misalnya pada saat mereka akan membuat deskripsi tentang gajah, mereka harus mengingat bentuk dan bagian-bagian tubuh secara tepat untuk menuliskan juga kegunaan masing-masing bagian tersebut termasuk cara hidupnya. Untuk itu akan lebih baik apabila siswa ditunjukkan visualisasi gajah yang real, namun tidak memungkinkan pembelajaran di kelas dengan menunjukkan gajah yang asli, selain untuk menunjang perkembangan kompetensi menulis siswa perlu banyak menulis dengan berbagai topic, selain gajah, bisa yang lain seperti jerapah, paus dan lain-lain. Visualisasi diperlukan agar siswa tidak hanya menghadapi sesuatu secara abstrak, untuk menanggulangi kesulitan menghadirkan benda yang real fungsi media diperlukan.

2.3 PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN METODE MIND MAP

Menurut Tony Buzan (2004: 68) Mind Map adalah metode untuk menyimpan suatu informasi yang diterima oleh seseorang dan mengingat kembali informasi yang diterima tesebut. Mind Map juga merupakan teknik meringkas bahan yang akan dipelajari dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau teknik grafik sehingga lebih mudah memahaminya.

Menurut Pandley (1994: 45) Metode Mind Map bertujuan untuk membangun pengetahuan siswa dalam belajar secara sistematis, yaitu sebagai teknik untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam penguasaan konsep dari suatu materi pelajaran.

Adapun tahap-tahap pembelajaran menulis report teks dengan menggunakan metode Mind Map sebagai berikut:

      1. Guru menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran tentang materi pelajaran yang akan dipelajari.
      2. Siswa mempelajari konsep tentang materi pelajaran yang dipelajari dengan bimbingan guru.
      3. Setelah siswa memahami materi yang telah diterangkan oleh guru, guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan tempat duduk yang berdekatan.
      4. Kemudian siswa dihimbau untuk membuat Mind Map dari materi yang dipelajari. Sebagai contoh untuk mempelajari teks reort dimulai dengan memetakan unsure-unsur yang ada di teks report, kemudian menyusun Mind Map.
      5. Untuk mempertajam kemampuan menulis teks report, guru memberikan contoh report teks tentang Kucing menggunakan Mind Map.
      6. Untuk mengevaluasi siswa tentang pemahaman terhadap unsur-unsur penyusun bentuk teks report, guru menunjuk beberapa siswa untuk mempresentasikan hasil Mind Map  tentang unsur-unsur penyusun teks report dengan contoh “Cat” lalu menuliskan di papan tulis.
      7. Dari hasil presentasi yang ditulis oleh siswa di papan tulis, guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan.
      8. Guru memberikan soal latihan tentang materi yang telah dipelajari kepada siswa untuk dikerjakan secara individu.

Pada akhir pembelajaran diadakan tes untuk mengetahui pemahaman konsep dan kemampuan akademis siswa.

Penelitian dengan menggunakan Mind Map sudah pernah dilakukan oleh Putinesia/nadia cinta putinesia (2012)yang berjudul “Mind Mapping as Cooperative Learning to Increase Students’ bility in writing descriptive paragraph at second grade of raden fatah junior high school. Dia menemukan bahwa setelah siswa diajarkan menggunakan mind mapping, penliti menemukan peningkatan yang signifikan dalam menstimulus siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam peningkatan kemampuan menulis siswa yang di buktikan adanya peningkatan nilai ujian akhir mereka yaitu para siswa dapat mencapai nilai rata-rata 87,3 yang melebihi rata-rata nilai berjumlah 70 yang sebelumnya mereka memperoleh nilai di bawah rata-rata yaitu 68,3karena guru jarang menggunakan bhasa inggris tapi menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa jawa di dalam kelas. Dari penelitian tersebut dapat diasumsikan bahwa pembelajaran menulis report teks dengan metode Mind Map dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks report belajar siswa.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 DESAIN PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini menggunakan PTK bersiklus dimana proses investigasi terkendali untuk menemukan dan memecahkan masalah pembelajaran di kelas, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil pembelajaran tertentu. Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan mengkuti procedure penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis dan Mc. Taggart (1990) dengan menggunakan prosedur kerja yang dipandang sebagai siklus spiral yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), pelaksanaan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection).

3.2 LOKASI DAN WAKTU

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Assa’adah sampurnan Bungah jl.Raya Bungah no 1 Bungah Gresik, dengan pertimbangan: (a) SMA Assa’adah sampurnan Bungah merupa-kan sekolah baru sehingga perlu adanya penelitian-penelitian tentang pendekatan pembelajaran yang paling efektif sehingga prestasi bahasa Inggris siswa sesuai dengan harapan. (b) Peneliti merupakan alumni SMA tersebut sehingga dalam pelaksanaan penelitian sangat memudahkan peneliti (c) Adanya ikatan batin yang baik antara peneliti dengan seluruh warga sekolah. (d) Peneliti juga melihat permasalahan yang dihadapi oleh siswa sehingga berupaya melakukan perbaikan dalam mengatasi permasalahan tersebut melalui penelitian tindakan kelas ini.

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dari awal bulan Agustus tahun 2013 sampai dengan awal bulan Oktober tahun 2013. Adapun rincian kegiatan penelitian tersebut adalah: persiapan penelitian, koordinasi pelaksanaan tindakan, pelaksanaan (perencanaan, tindakan, monitoring dan evaluasi), penyusunan laporan penelitian, diskusi teman sejawat, penyempurnaan, penggandaan laporan penelitian. Adapun rincian waktu pelaksanaan penelitian ini yang dituangkan pada tabel berikut:

Penelitian ini dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2013/2014, antara bulan Januari sampai dengan bulan Agustus 2013 dan rencana berlangsung selama 2 bulan secara berkesinambungan.

SUBJEK PENELITIAN

Subyek penelitian adalah siswa kelas XI SMA Assa’adah Sampurnan Bungah dengan jumlah siswa 40 orang dengan jumlah siswa laki-laki 25 dan perempuan 15(Nama-nama siswa yang terlibat disajikan pada Lampiran 1). Observer terdiri dari dua orang Guru yaitu: Bapak Ah. Murtadlo S.Pd dan Ibu Musrifah M.Hum yang membantu peneliti merekam proses pembelajaran.

3.4  LANGKAH-LANGKAH (PROCEDURE) PENELITIAN

Penelitian ini dimulai dengan melakukan identifikasi masalah terhadap lemahnya

Kemampuan menulis teks report siswa kelas XI SMA ASSA’ADAH melalui kegiatan persiklus dan refleksi. Adapun Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari dua siklus, disetiap siklus adanya perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.

Siklus 1

3.4.1        PERENCANAAN

Adapun kegiatan perencanaan meliputi tahap-tahap sebagai berikut:

      1. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan metode Mind Map. RPP ini digunakan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas.
      2. Menyusun dan menyiapkan pedoman observasi pelaksanaan pembelajaran dan lembar observasi perilaku siswa. Pedoman observasi digunakan untuk mencatat hasil pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran serta digunakan untuk mencatat segala perilaku dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
      3. Menyusun pedoman wawancara untuk siswa dan guru. Pedoman wawancara disusun untuk mempermudah peneliti dalam mengetahui respon siswa dan guru terhadap pembelajaran yang sedang dilaksanakan.
      4. Menyusun dan mempersiapkan Soal Tes dan LKS untuk siswa, kemudian dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru yang bersangkutan.

3.4.2        PELAKSANAAN

Pelaksanaan terdiri dari beberapa kegiatan:

      1. Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
      2. Guru menerapkan metode Mind Map pada proses menulis teks report
      3. Guru membentuk empat kelompok siswa dari jumlah 40 siswa
      4. Setiap kelompok siswa membuat Mind Map sesuai dengan topic yang telah disediakan
      5. Guru menilai ke setiap kelompok bagaimana topic tersebut dapat dikembangkan dengan menggunakan Mind Map oleh siswa

7. Guru memberikan tes tertulis

3.4.3        PENGAMATAN

Mengamati proses pembelajaran dan menilai hasil tes sehingga diketahui hasilnya atas dasar hasil tersebut digunakan untuk merencanakan tindak lanjut pada siklus berikutnya.

3.4.4        REFLEKSI

3.4.4.1  Analisis hasil observasi

Pada tahap ini peneliti mengumpulkan dan menganalisis data yang diperoleh selama observasi, yaitu data yang diperoleh dari lembar observasi. Kemudian peneliti mendiskusikan dengan guru dari hasil pengamatan yang dilakukan, baik kekurangan maupun ketercapaian pembelajaran dari siklus pertama sebagai pertimbangan perencanaan pembelajaran pada siklus selanjutnya. Dari hasil itu dapat diketahui hasil analisis adalah Ketrampilan kooperatif siswa dalam melakukan kegiatan pada masing-  masing tahap belajar kooperatif, hasil kegiatan kelompok, dan hasil quis dan kaitannya dengan hasil kegiatan kelompok.

3.4.4.2  Kekuatan dan Kelemahan Siklus I

Setelah siswa diajari menulis teks report dengan menggunakan metode Mind Map, siswa mulai menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menulis siswa dalam menulis teks report setelah diterapkan metode Mind Map yang ditunjukkan dengan kenaikan nilai tes menulis teks report siswa pada siklus I. Rata-rata kelas berdasarkan nilai tes siswa meningkat di siklus 1.

Hasil-hasil yang diperoleh dan permasalahan yang muncul pada pelaksanaan tindakan dipakai sebagai dasar untuk melakukan perencanaan ulang pada siklus berikutnya.

3.5  RENCANA TINDAK LANJUT

Rencana melakukan siklus kedua akan dilakukan apabila hasil siklus 1 belum optimal dengan cara dilakukan perbaikan untuk memperbaiki pelaksanaan dan kekuaranagan-kekurngan pada siklus 1. Rencana yang akan dibuat dan dilaksanakan dalam siklus ini, didasarkan pada hasil analisis dari siklus 1 dan setelah semua inpdikator dalam penelitian ini maka peneliti akan menyusun laporan hasil penelitian dari kegiatan yang telah dilakukan.

3.6 INDIKATOR KEBERHASILAN

`           Tingkat keberhasilan penelitian tindakan kelas ini ditandai dengan adanyaMperubahan ke arah perbaikan dari kemampuan siswa dalam menulis teks report. Indikator tersebut adalah:

Aspek

Pencapaian siklus 1

Cara mengukur

penggunaan metode Mind Map untuk pembelajaran menulis teks report 85 % siswa menanggapi positif terhadap penggunaan media tersebut untuk pembelajaran yang diikutinya.
Interaksi antar siswa pada kegiatan kooperatif  25 % Diamati ketika siswa melakukan diskusi, dicatat keterlibatan masing-masing siswa dalam kelompok 
Ketuntasan hasil belajar  60% Dihitung dari nilai rata-rata pre test dan post test. Siswa yang memperoleh nilai lebih besar/sama dengan 70 dinyatakan tuntas. 

3.7  INSTRUMENT PENELITIAN

Berikut uraian mengenai instrumen pembelajaran:

  1. 1.      Lembar observasi kegiatan pembelajaran

Lembar observasi berupa catatan penting yang digunakan untuk mengobservasi hal-hal yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran, seperti keterlaksanaan RPP dan keterlaksanaan rencana tindakan. Lembar observasi ini juga digunakan untuk mengobservasi aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, aktivitas guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, kemampuan siswa dalam menulis teks report menggunakan Minde Map yang diberikan oleh guru, kendala-kendala yang dihadapi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan kejadian-kejadian spesifik lainnya dalam kegiatan pembelajaran. Hasil observasi ini juga difungsikan sebagai sarana untuk melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran.

  1. 2.      Pedoman wawancara

Pedoman wawancara disusun untuk menelusuri lebih lanjut tentang hal-hal yang tidak dapat diketahui melalui observasi dan angket. Selain itu juga mempermudah peneliti melakukan tanya jawab tentang bagaimana respon siswa dan guru terhadap pembelajaran dengan menggunakan metode Mind Map yang dilakukan. Adapun isi dari pedoman wawancara ini adalah kendala apa saja yang dihadapi siswa dan guru dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode Mind Map dan solusi apa yang diambil untuk mengatasi kendala tersebut. Selain itu juga menanyakan bagaimana tanggapan guru dan siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan metode Mind Map (peta pikiran). Pedoman wawancara ini bersifat bebas, sehingga peneliti dapat mengembangkan sendiri pertanyaan yang ingin diajukan guna mamperoleh data selengkaplangkapnya. Meskipun sifatnya bebas, kegiatan wawancara ini tetap terkendali karena peneliti membawa pedoman wawancara yang berisi garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan.

  1. 3.      Catatan Lapangan

Catatan Lapangan merupakan sumber informasi yang sangat penting. Pembuatan catatan lapangan bersama mitra pengamat (observer) berdasarkan hasil observasi berbagai aspek pembelajaran di kelas, suasana kelas, pengelolaan kelas, hubungan interaksi antar guru dan siswa, interaksi siswa dengan siswa. Aspek perencanaan, pelaksanaan, diskusi, dan refleksi dituangkan secara diskriptif dalam catatan lapangan.

  1. 4.      Tes Tertulis

Tes tertulis yang dimaksud adalah tes evaluasi yang diberikan apabila sub bab telah selesai. Tes ini diberikan setiap akhir siklus. Tes evaluasi digunakan untuk mengukur penguasaan dan kemampuan para siswa setelah menerima proses pembelajaran dengan metode Mind Map. Instrumen ini juga digunakan sebagai sumber tambahan dalam melihat perkembangan kemamuan menulis teks report siswa yang dilihat dari peningkatan nilai dan hasil belajar siswa setelah diberikan tindakan. Tes evaluasi digunakan untuk mengetahui ketercapaian prestasi belajar siswa.

  1. 5.      Dokumentasi

Dokumentasi merupakan suatu media untuk memperoleh gambaran visualisasi mengenai aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Dokumentasi berupa hasil kerja siswa selama kegiatan berlangsung serta foto-foto kegiatan yang dilakukan selama pembelajaran dengan menggunakan media kamera. Dokumentasi dilakukan untuk melihat catatan-catatan yang dilakukan dalam penelitian.

3.8  PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA

Pengumpulan Data

  1. 1.      Observasi

Observasi dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi bertujuan untuk mengamati proses pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan metode Mind Map dan mengamati perilaku siswa yang tampak pada saat pembelajaran berlangsung.

  1. 2.      Wawancara

Wawancara dilakukan dengan tanya jawab secara langsung terhadap subjek penelitian. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang pelaksanaan menulis teks report dengan metode Mind Map dan hambatan yang dihadapi selama pembelajaran berlangsung. Dengan wawancara diharapkan dapat diketahui permasalahan yang dialami siswa selama proses pembelajaran serta tanggapan siswa terhadap pembelajaran.

  1. 3.      Catatan Lapangan

Catatan lapangan adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data. Catatan lapangan digunakan untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama proses pembelajaran di kelas berlangsung ketika peneliti melakukan observasi serta kendalakendala yang dihadapi siswa maupun guru.

  1. 4.      Tes

Tes dilaksanakan pada akhir pembelajaran dari setiap siklus. Dengan memberikan soal kepada siswa untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari.

  1. 5.      Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk memperkuat data yang diperoleh dari hasil observasi, angket, wawancara dan tes. Dokumentasi dilakukan untuk melihat catatan-catatan atau arsip-arsip yang dilakukan dalam penelitian. Dokumen-dokumen tersebut antara lain berupa arsip RPP, hasil observasi, hasil pekerjan siswa yang dapat memberi informasi data, tugas, hasil tes. Selain itu dokumen digunakan untuk memberikan gambaran secara visual mengenai kegiatan siswa. Dokumen berupa foto-foto yang diambil selama proses pembelajaran dengan metode Mind Map berlangsung.

Analisis Data

Analisi pemahaman konsep siswa

Untuk mengetahui pemahaman konsep siswa setelah diberikan tindakan penerapan Mind Map untuk meningkatkan kemapuan siswa dalam menulis teks report, maka dilakukan analisis kuantitatif dengan cara mengamalisis lembar jawaban pre-test dan post-test  yang telah diberikankepada siswa melalui tahapan sepeti di bawah ini.

  1. a.      Penskoran hasil pre-test dan ­post-test
    1. Membaca setiap jawaban yang diberikan oleh siswa untuk setiap butir soal tes uraian dan membandingkanya dengan pedoman jawaban yang sudah da dengan jawaban yang telah disediakan.
    2. Atas dasar hasil perbandingan antara jawaban siswa yang telah disiapkan itu, tester lalu memberikan skor untuk setiap butir soal dan menuliskanya di bagian kiri dari jawaban siswa tersebut.
    3. Menjumlahkan skor yang telah diberikan kepada siswa yang nantinya akan ldijadikan bahan dalam pengolahan dan penentuan nilai lebih lanjut.

Pengolahan dan pengubahan skor mentah hasil pre-test dan post-test

Penetuan nilai hasil pretest dan post-test akan menggunakanacuan kriterium (menggunakan PAP), artinya penentuan nilai seorang siswa dilakukan dengan jalan membandingkanskor mentah hasil pretest/post test dengan skor maksimum idealnya dan akan digunakan rumus sebagai beikut:

Nilai =  skor mentah/skor maksimum ideal X 100%

Karena hasil pre-test dan post test ditentukn dengan menggunakan standar mutlak mengacu pada kriterium atau patokan (PAP) maka tester dalam hal ini peneliti akan dapat segera mengetahui siswa manakah yang tingkat penguasaanya tergolong tiggi, sedang, atau rendah. Tingginya nilai yang berhasil diraih oleh seorang siswa berarti siswa tersebut tingkat penguasaanya atau tingkat kedalamanya terhadap materi test tinggi dan sebaliknya, seorang siswa dengan nilai rendah, maka hal itu merupakan indicator tetntang rendahnya tingkat penguasaan teradap materi tes yang dihadapakan kepada siswa tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Sa’adiyah, H. 2010. Peningkatan motivasi belajar dan pemahaman konsep biologi dengan mind map melalui pembelajaran think pair share pasangan jenis kelamin siswa SMA NEGERI PAKONG PAMEKASAN. Malang: UMM Press

Putinesia, N.C. 2012. Mind Mapping as Cooperative Learning To Increase Students’ Ability in Writing Descriptive Paragraph at Second Grade of Raden Fatah Junior High School. Malang: UMM Press

Tapantoko, A.A. 2011. Penggunaan Metode Mind Map (Peta Pikiran) Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas Viii Smp Negeri 4 Depok. Yogyakarta: UNY Press

Hartanti, R.D. 2012. Upaya Meningkatkan Kemampuan Siswa Untuk Menulis Essay Berbentuk Teks Report Di Kelas Ix B Smp Negeri 2 Jatipurno Tahun 2011-2012 (online) http://widyasaripress.com/index.php?option=com_content&view=article&id=49:kemampuan-siswa-menulis-essay&catid=29:jurnal-mei-2012-seri-i&Itemid=2

Teaching Descriptive Writing Using Realia as Media in Learning Activities

Malang, 27 June 2013

Khafidhotun Nadliroh

A.    INTRODUCTION

Writing is one of four language skills which are speaking, listening, reading, and writing. Every learner may want to be able to write well in English. By having writing ability, the learners can share information, thoughts, experiences or ideas to other people. According to Ariyanti (2010:91), writing is an important skill in taking, retaining, and expressing information. In addition, “writing is an important part of language teaching as it also functions as an essential tool for learning in which students improve their knowledge of the language elements in real use” (Taselin, 2010:104). From the explanation, writing is an important skill to be learned by the students because it has important roles in the learning activities.

In a writing activity, the students must be able to write some text types. One of text types is descriptive text. According to Leksono (2009:80), descriptive text is fun and it makes students’ writing more interesting to readers because the students use their words to help readers “see” or to visualize of people, places, or things. It means that by using descriptive text, the readers can create their own pictures of what those are written. Writing a descriptive text needs more attention because the students have to know the things that will be described in detail. Because of that reason, the teachers must use the variety and useful strategies to make students write well in descriptive text. One of ways which can be considered in writing descriptive text is by using realia as media in learning activities.

Using media in learning activities is very important for teachers. The benefit of using media is media helps to enhance the quality in learning. Using media can support the teachers’ materials. Well-designed material takes the wisdom of different accepted learning theorist into account which result in active and effective learning (Kumar,1998:7). As a result, media is an integral part of the learning activities in order to achieve educational goals.

Realia is a kind of media that can be used for teachers to teach writing about descriptive text. Based on Soulier (1981:7), real objects or realia are things that we meet every day. We sometimes do not realize that they are very important to the math and English teachers as they are to the basketball coach and the medical professor. According to Ngaroga (1996:262), there are four advantages of using realia as the media in learning activities especially in teaching descriptive writing: First, realia are motivating. Second, they provide the learners with the sort of direct experience that cannot be obtained through other media of learning no matter how well contrived (designed). Third, they allow learners to apply various senses and this make effective. Finally, they are available in large quantities and are cheaply obtained. From the explanations from the experts, realia give opportunity in many areas of studies. Realia become a center of interest, stimulating other ideas for study.

Using realia in learning activities enables to the students write descriptive texts based on the characteristics of the realia. Then, hopefully by using realia in learning activities, the students’ writing ability can be improved. In this article, the writer would like to discuss about Teaching Descriptive Writing using realia as the media in learning activities. The following discusses is the implementation of realia in writing descriptive text.

B.     THE IMPLEMENTATION OF REALIA

In this article, the writer explains the implementation of realia in Junior High School level in the first grade. Teaching writing in Junior High School Students will develop the students’ competence in writing text types especially descriptive texts. Besides that, the writer make a syllabus to applied the materials to make students interested in the writing a descriptive text by using realia. Before a teacher teaches their students, the teacher must make a syllabus first. Based on Fatmawati (2011), syllabus is providing a focus for teachers and students in achieving basic competencies and indicators and influencing the development of individual students.

In the teaching of descriptive texts by using realia as one of media in learning activities, the writer used the three-phase technique which includes pre-writing, whilst-writing, and post- writing.

Pre-writing

  • The teacher asks to the students to mention objects that they see in the real life such as books, pails, and snakes etc.
  • The teacher explains to the students about the material they will learn.

Whilst-writing

  • The teacher gives a picture to the students one example of realia media that is eyeglasses.
  • The teacher gives questions about the object through an overhead projector.
  1. What is the picture?
  2. What is the color of the frame?
  3. What is the color of the lens?
  4. How long the eyeglass?
  • The teacher asks the students to work in a pair
  • The teacher tells the students about the characteristics of a descriptive text.
  • After the students understand how to describe object, the teacher asks to the students to look for another real object indoor or outdoor of the class with the teacher’s guiding.
  • Each group discusses about everything related to their objects by using the leading questions from the teacher or based on their own questions.
  • The teacher asks to the students to write a descriptive text based on the real objects that they found.
  • Some groups read their descriptive text in front of the class.

Post-writing

  • The teacher asks the students to submit their work.
  • The teacher has reflection session to hear students’ opinion for what they have learned.
  • For homework, the teacher asks the students to look for another realia in around their house.

C. CONCLUSION AND RECOMMENDATION

The role of a teacher in a writing class is very important to make the students active in the writing activities. It has been stated that writing descriptive text needs more attention because the students have to know the things that will be described in detail so the teacher should have creative and interesting strategies to make students active and able to write descriptive text. One of the strategies is by using realia media in the teaching descriptive writing. In the fact, realia is a interesting media for the students in learning activities. Realia can give students’ motivation, stimulate their imagination, and reduce the students’ stress in writing activities. Besides that, realia media also help the students to create their writing of descriptive texts because they can look at and touch the real objects that they want to describe. Teachers who want to conduct realia media in the other English skills such as speaking, listening, and reading are recommended to apply another writing process. They should be creative in choosing realia media to be used in the learning activities to make the classroom atmosphere alive.

REFERENCES

Ariyanti, L. 2010. Teaching Writing by Using The Think-Pair-Share (TPS) Technique. On     Cahyono, B. A (Ed), The Teaching of English Language Skill and English              Language Components (page. 91-101). Malang:  State University of Malang Press.

Fatmawati, I. 2011. Manfaat Silabus dan RPP dalam Pembelajaran Biologi (The Advantages of Syllabus and Lesson Plan in Biology Teaching), (online), (http://jimmicka.blogspot.com/2011/05/manfaat-silabus-dan-rpp-dalam.html, accessed on Tuesday, 14 May 2013).

Kumar, V.1998. Media Options for Teacher. New Delhi: Atlantic Publisher and Distributors.

Leksono, A. B. 2009. Teaching Descriptive Texts Using Pictures and Cluster Diagramming. On Cahyono, B. A (Ed), Techniques in Teaching EFL Writing: Practical Guides for English Teachers of SMP/MTS in Indonesia (page.10-15). Malang: State University of Malang Press.

Ngaroga, J. M. 1996. PTE Revision Series Education for Primary Teacher Education. Kenya: East African Educational Publisher Ltd.

Soulier, J. S. 1981. The Instructional Media Library: Real Object and Models. New Jersey: Educational Technology Publications, Inc.,Englewood Cliff.

Taselin, M. 2010. Interactive Activities for Improving Students’ Writing Skill. On Cahyono, B. A (Ed), The Teaching of English Language Skill and English Language Components (page.103-112). Malang:  State University of Malang Press.

 

 

Cerita mengharukan terjemahan

Malang, 23 April 2013

Khafidhotun Nadliroh

Puisi Pertama Dan Terakhir

               Musim panas telah berlalu, yang tersisa hanyalah angin sepoi-sepoi dan bunga anggrek ungu. Siulan burung-burung terdengar menyenangkan saat pertama kali aku mendengarnya, tepatnya di tempat ini. Bangku kayu yang aku duduki sekarang ini terlihat sepeti sebuah cerita: Aku ingat telah membawakanya semangkok mie dan sebungkus sandwich (kue lapis) buatanku sendiri yang kupikir rasanya tidak terlalu lezat seperti sandwich yang pada umunya. Tetapi beliau suka sekali dan selalu memintaku untuk membuatkan untuknya. Aku hanya bisa berkata “Aku akan membuatnya”, karena jawabanku itu beliau terus menagih janjiku. Kepatuhan seperti itu yang telah aku berikan untuk permintaanya pada saat itu tapi itu seperti pemandangan yang aneh. Sejak aku sendiri di sini, duduk di bangku  kayu tua yang hampir rusak dengan ditemani sebungkus sandwich dan sebotol air minum. Saya memegang selembar kertas sambil menutup kedua mataku agar dapat merasakan sentuhan lembut. Sentuhan itu yang membuat diriku mengingat saat kami bersama-sama di tempat ini dan saling mengobrol dengan bahasa yang indah serta membuatnya menjadi puisi dan kata-kata bijak.

Dalam kenanganku, beliau sangat perhatian dan penyayang. Senyumnya yang lebar serta hangat memancarkan cahaya ke dalam hati yang telah kehilangan kegembiraan. Senyuman yang tidak pernah pudar dari bibirnya menyambut setiap orang yang beliau temui. Itulah yang membuatku kagum pada beliau. Beliau bukanlah lelaki yang ingin dikasihani. Beliau tidak pernah mengeluh tentang penyakitnya di masa beliau hidup. Beliau dapat bertahan hidup lebih lama daripada aku. Itulah kenyataanya. Beliau sangat mudah menerima penyakitnya dengan lapang dada, menikmati hidupnya. Banyak pelajaran yang diberikanya padaku., dan saya dapat melihat kearifan beliau. Kearifan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang berkuasa atau mereka yang yang berstatus tingi di masayrakat, bahkan mereka yang lebih tua. Kearifan memancarkan keberadaan kita di tengah-tengah masayarakat di sekeliling kita. Itu adalah hadiah dari Tuhan, jika kesulitan menghampiri kita, kita mau berlapang dada menerimanya.

Aku memanggil beliau dengan sebutan Yangkung (kakek), meskipun beliu bukanlah kakekku. Aku memanggilnya kakek sejak beliau memintaku memanggilnya kakek. Pada waktu beliau berumur 70th saat pertama kali aku melihat beliau berdiri di depan kelas dengan anggun dan semangat. Aku melihat beliau mengajar dengan penuh semangat. Cara beliau dalam memilih kata dan gerak tubuhnya yang natural seperti rumput yang bergoyang tertiup angin di padang rumput: mempesona dan menyenangkan. Keriput di sudut kedua matanya, kedua pipinya dan kedua tanganya sejauh yang aku perhatikan. Pada saat itu beliau mengajar bab semantik. Beliau sering menyuruhku maju ke depan kelas untuk mengerjakan materi “tree diagram” (diagram pohon) yang tidak aku megerti sedikitpun. Pada awalnya aku mengira beliau mencoba mempermalukanku karena aku tidak pandai dalam materi itu, sehingga beliau menertawaiku dengan tebahak-bahak; dan teman-teman sekelas pun ikut tertawa. Itu menjadikan kesalahpahamanku pada beliau. Dil ain pihak, beliau memotivasiku untuk belajar lebih giat dan serius mempelajari tree diagram. Beliau sering menawariku untuk mengikuti kelas tambahan jika aku mengalami kesulitan dipelajaran semantik. Jadi beberapa kali kami bertemu di area parkir kampus setiap jam 12 siang dan menikmati makan siang bersama.

Yangkun menikmati keindahan alam, tetapi tidak di masa sekarang. Beliau rindu pada masa-masa beliau, seribu tahun yang lalu. Ketika putri tidur adalah satu-satunya yang dibanggakan di kota ini, seperti anggrek-anggerk ungu yang baru tumbuh berbunga. Burung-burung manyar menari-nari dan mendarat sekilas di atas hijaunya padang rumput. Beliau selalu teringat saat beliau memetik buah strawberry yang kecil di kebun kota dengan bebas bersama orang-orang sekelilingnya. “Jangan salah! Buah strawberry ini sangatlah lezat, segar dan enak. Apalagi gratis” itulah cara beliau meyakinkan aku bahwa strawberry-strawbery itu bersih dan beliau suka sekali memakanya. Saat itu aku tersenyum pada beliu dan berpikir itu lucu saat aku memandang ekspresi beliau ketika beliau mengatakanya dengan semangat, Ekspresi seorang anak bercerita tentang mainan baru pemberian ibunya. Beliau memperlihatkan kegembiraanya.

Hari itu, tanggal 9 September, kita menikmati sebungkus sandwich buatanku sendiri. Aku tidak mengerti mengapa beliau selau menyukai sandwich. Bagiku tidak ada yang special dari sandwich. Sandwich sudah menjadi menu favorit kami saat makan siang bersama. Yangkung menyukai sayur dan buah-buahan. Beliau tidak suka keju karena keju banyak mengandung lemak. 2 botol air minum yang selalu beliau minta aku membelikanya sebagai pelengkap sandwich. Beliau satu-satunya yang berhasil membuat aku terbiasa minum air putih.

“Bagaimana jika kamu membuat sebuah puisi untukku?” beliau berkata tiba-tiba

“Maaf”

Dengan tiba-tiba beliau memintaku untuk menulis puisi untuknya. Aku benar-benar tidak mengerti tujuan dari idenya itu. Beliau ingin mendengar kata-kata indah dan menyusunnya menjadi sebuah puisi, tetapi puisi itu harus aku yang menulisnya. Aku merasa itu adalah usul yang aneh.

“Mungkin aku tidak bisa membuat puisi indah untukmu Yangkung.” Kataku

Beliau bersikeras agar aku mau membuat puisi untuknya. Beliau memberi pujian pada bakat menulisku yang telah beliau amati. Beliau berkata bahwa aku mempunyai kemampuan dalam menulis. Jadi beliau yakin menulis puisi adalah hal yang mudah bagiku. Beliau hanya ingin mengetahuinya. Aku bingung. Saat aku punya kesempatan untuk memperlihatkan sedikit keahlianku di depan dosenku atau aku akan malu jika puisiku tidak terdengar bagus baginya.

Bisahkah aku minta waktu untuk mencatatnya selama beberapa detik?”

Beliau menggaru-garuk kepalanya

‘Tidak! sambil kamu membuatnya, aku juga mendengarkan. Kemudian aku memberi pendapat. Hanya itu. Sederhana kan?”

“Bagaimana jika puisiku tidak terdengar bagus menurutmu?”

“Baiklah, aku hanya akan berkata puisimu bagus, cantik. Jangan khawatir. Jika itu bisa membuatmu senang.

Dan kemudian beliau tersenyum, oh Tuhan, senyum itu: menawan dan menakjubkan

Kami bertemu siang harinya lagi, aku membawa puisiku untuknya dan aku membacanya. Tentu saja aku mulai membacanya dengan penuh keraguan.

Life, which I just knew the meaning of it.

Brings me to the world I do not recognize anymore ; where am I, until I ask.

I am hunger of kissing the beauty of Orchids, enjoying the passion of the Sleeping Beauty, by which I would always have a very tight sleep on the beach in the park.

And the later the Manyar birds woke me up through their sigh.

I am longing for that most wonderful world I had once in my life.

Being in touch with nature while the world nowadays does not give any chance for me even only to take a glance to it.

This era is not mind any longer, it is so not me!

It isn’t heaven-like, but I am thankful I could still b the one who can share the beautiful world in the past to the young sisters.

This world is not friendly for a second time, child

You never know how much I miss it.

‘‘Indah, sayangku, puisi yang bagus.” Kata beliau. Aku mengucapkan terima kasih. Aku kira puisiku tidak terlalu bagus seperti yang beliau bilang. Mungkin beliau hanya ingin membuatku senang.

“Kamu pasti sudah salah faham. Kamu pikir saya hanya berpura-pura mengatakan puisimu indah, kan? Itu serius cantik. Saya suka puisimu. Itu seperti yang aku pikirkan”. Lagi-lagi senyum paling indah yang pernah merekah di bibirnya.

Aku menulis puisi tentang pengalaman Yangkung di dunia ini, beliau tidak mengeluh dengan segala permasalah di dunia ini. Aku hanya ingin beliau tahu bahwa aku memperhatikan ketertarikan beliau tentang alam di waktu dualu. Aku percaya yang pernah beliau katakan. Aku dapat merasakan kegembiraan ketika aku menulis tentang bunga aggrek, putri tidur dan burung Manyar.

Kamu benar, kehidupan sekarang sudah tidak pernah seperti kehidupan di surga. Jadi mungkin saya akan menemukan kehidupanku di surga nanti. Beliau menertawai lelucon yang beliau buat sendiri. Dan aku sangat senang melihat beliau yang tertawa, kemudian ku merasakan air mataku menetes tiba-tiba. Ada sesuatu yang memenuhi hatiku tiba-tiba. Aku tidak tahu mengapa aku harus menangis melihat beliau senang. Aku seharusnya ikut tertawa kan? Tapi tidak. Aku membuat usaha yang keras untuk berpikir apa yang sedang terjadi waktu itu. Aku tidak menemukan jawaban yang mendalam di kedua mata beliau. Apa aku berani mengatakanya pada beliau?

“Apa engkau bahagia Yangkung?”

“Sangat bahagia , cantik. kenapa?ada yang aneh?”

“Tidak ada yang aneh, tetapi ada kegelisahan”

“Ayo pergi” minta beliau

Beliau mengantar aku pulang. Saat berada di mobilnya, beliau memberiku banyak nasehat. Beliau sering tertawa. Aku tidak pernah melihat beliau seperti itu sebelumnya. Tapi aku senang mendengar nasehat dan ekspresi beliau. Beliau terlihat sangat bahagia. Ketika kita sampai di depan rumahku, beliau mengatakan sesuatu sebelum aku masuk rumah.

Sayangku, terimakasih sudah menjadi cucuku yang paling baik. Terimakasih untuk puisi yang kamu buat untukku, saya sangat berterimakasih untuk semuanya. Maukah kamu melakukan sesuatu untukku? Hanya satu dan saya harap kamu tidak keberatan.

Beliau mengulurkan tangan kananya kepadaku. Tanpa aba-aba sebuah kata atau intruksi, aku menyambut uluran tangan beliau. Tetapi dengan melihat mata beliau, aku mengerti apa yang harus aku lakukan. Aku mencium tangan kanan beliau dengan hormat. Seperti bagaimana seorang cucu yang sayang kepada kakeknya sendiri. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya, tetapi aku yakin itu tidaklah salah dan aku percaya itu  benar. Kemudian beliau melambaikan kedua tanganya dan berkata selamat tinggal. Aku melihat punggung beliau meninggalkanku bersama hari dimana kebersamaan kita hilang, dan semua kenangan kita dahulu. Itu adalah nasehat yang ditinggalkan. Beliau berada dalam kehidupan bahagia di surga. Aku kehilangan beliau, aku kehilangan kakek tersayang. Dunia seharusnya ikut berduka cita pada beliau.

Aku tidak tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir aku melihat beliau. Aku tidak menyangka bahwa puisi itu adalah puisi terakhir untuk beliau. Aku yakin beliau tersenyum di dunia impianya. Anggrek ungu, putri tidur dan burung Manyar menjadi kenangan dimana aku duduk di taman ini yang masih menjadi teman hari-hariku bersama Yangkung dahulu.

Yangkung meningal karena Heptitis, tapi beliau tidak pernah mengeluh pada penyakitnya. Beliau menerimaya dengan lapang.

Cerpen ini di ambil dari “REFORM”, a magazine for Reformers edisi 39/2010 yang di tulis oleh :

Zwesty Aridasarie, ESP Lecturer at University of Muhammadiyah Malang.

Di terjemahkan oleh :                     

Khafidhotun Nadliroh

23 Agustus 2011

GANGGUAN BAHASA PADA ANAK

Malang, 18 April 2013

Khafidhotun Nadliroh

BAB I

PENDAHULUAN

I.I LATAR BELAKANG

Bahasa merupakan sebuah karunia Allah SWT yang patut disyukuri oleh siapapun. Karena bahasa merupakan satu-satunya alat komunikasi yang tidak mungkin akan terhindarkan dari kehidupan kita sebagai binatang penutur (the speaking animal). Sejak manusia pertama bernama Adam, Allah telah mengajarinya dengan menyebut benda-benda. Saat itulah kemampuan manusia untuk berbahasa dimulai. Menurut Kridalaksana (2001:21) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Manusia pada umumnya bisa berbicara menggunakan bahasa sejak umur 1 tahun sudah dapat memanggil “mama” atau “papa”. Jika anak mampu mengucapkan kata-kata dengan benar maka orangtua maupun pendidik di lembaga pendidikan anak usia dini (paud)  pasti akan sangat senang. Tapi bagaimana apabila seorang anak hingga berusia 2 tahun tidak dapat berbicara, apalagi memanggil orang tuanya, apakah ini yang dinamkan kelainan atau gangguan bahasa pada anak?

I.2 RUMUSAN MASALAH

1. Faktor penyebab kelainan atau gangguan bahasa pada anak?

2. Apa macam-macam kelainan atau gangguan bahasa pada anak?

3. Apa tanda-tanda anak mengalami kelainan gangguan bahasa pada anak?

1.3 TUJUAN

1. Untuk mengetahui faktor penyebab kelainan atau gangguan bahasa pada anak.

2. Untuk mengetaui macam-macam kelainan atau gangguan bahasa pada anak.

3. Untuk mengetaui tanda-tanda anak mengalami kelainan atau gangguan bahasa.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENYEBAB KELAINAN ATAU GANGGUAN BAHASA PADA ANAK.

Gangguan berbahasa dapat berupa keterlambatan berbicara. Keterlambatan perkembangan berbicara yang paling sederhana adalah keterlambatan perkembangan bahasa anak di bawah umur. Gejala keterlambatan yang muncul apabila anak berumur 10 bulan belum dapat mengoceh dan 18 bulan belum menguasai kata “ papa “ dan “ mama “ atau 2 tahun belum dapat merangkai kalimat dari dua kata atau bicaranya tidak dapat dimengerti oleh orang tuanya atau tidak mengerti apa yang dikatakan kepada anak itu.

A. FAKTOR INTERNAL

  • Faktor Keturunan (konginetal)

Gangguan bahasa pada bayi bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Gangguan ini bisa dikarenakan, retardasai mental, ketulian, gangguan saraf, cacat pada alat bicara seperti pada lidah, gigi, bibir, langit-langit dan anak lidah. Bisa juga karena gangguan perkembangan bicara, seperti gagap dan gangguan saraf-saraf motorik.

  • Gangguanpendengaran
    Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga. Anak dengan gangguan pendengaran biasanya ia tidak akan memberi respons terhadap bunyi-bunyian yang ada di sekitarnya. Gangguan pendengaran bisa menyebabkan anak mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Sebaiknya bawa segera anak ke dokter spesialis THT siapa tahu ada infeksi dengan telinganya.
  • Gangguan bicara yang didapat
    Gangguan yang didapat adalah gangguan bicara yang diakibatkan penyakit. Bisa juga karena infeksi pada otak pasca trauma kepala, kanker otak, gangguan aliran darah ke otak, serta kelumpuhan saraf yang menggerakkan otot bicara, seperti polio dan tumor otak.
  • Faktor kejiwaan seperti penyakit autisme
    Untuk anak autisme, perlu latihan. Pada tahap awal, stimulasi dengan kontak dengan matanya. Karena pada anak autisme tidak mau melakukan kontak mata dengan lawan bicara.

B. FAKTOR EKSTERNAL

Yang dimaksud dengan akibat faktor lingkungan adalah terasingnya seorang anak manusia, yang aspek biologis bahasanya normal dari lingkungan kehidupan manusia. Keterasingannya bisa disebabkan karena diperlakukan dengan sengaja (sebagai eksperimen) bisa juga karena hidup bukan dalam alam lingkungan manusia.

2.2 MACAM-MACAM KELAINAN ATAU GANGGUAN BAHASA PADA ANAK.

1.      Afasia

Afasia yaitu kehilangan kemampuan untuk membentuk kata-kata atau kehilangan kemampuan untuk menangkap arti kata-kata sehingga pembicaraan tidak dapat berlangsung dengan baik. Anak-anak dengan afasia didapat memiliki riwayat perkembangan bahasa awal yang normal, dan memiliki onset setelah trauma kepala atau gangguan neurologis lain.

2.      Gagap

Gagap adalah gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara. Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata atau suatu bloking yang spasmodik, bisa terjadi spasme tonik dari otot-otot bicara seperti lidah, bibir dan laring. Terdapat kecendrungan adanya riwayat gagap dalam keluarga. Selain itu, gagap juga dapat disebabkan oleh tekanan dari orang tua agar anak bicara dengan jelas, gangguan lateralisasi, rasa tidak aman, dan kepribadian anak.

3.      Disfasia Perkembangan

Disfasia perkembangan adalah disfasia yang dialami anak apabila terdapat defisit dalam ekspresi verbal atau pemahaman bahasanya, tidak termasuk di dalamnya gangguan pendengaran, motorik, terbelakang mental, kerusakan otak, emosional atau lingkungan bicara yang kurang mendukung.

3.3  TANDA-TANDA ANAK MENGALAMI KELAINAN ATAU GANGGUAN BAHASA.

  • Sampai dengan usia 10 minggu, anak tidak mau tersenyum sosial.
  • Pada usia 3 bulan, anak tidak mengeluarkan suara sebagai jawaban.
  • Pada usia 6 bulan, anak tidak mampu memalingkan mata dan kepalanya terhadap suara yang datang dari belakang atau sampingnya.
  • Sampai dengan usia 8 bulan, anak tidak ada perhatian terhadap lingkungan sekitarnya.
  • Pada usia 10 bulan, anak tidak memberi reaksi terhadap panggilan namanya sendiri.
  • Pada usia 15 bulan, anak tidak berbicara, tidak mengerti dan memberikan reaksi terhadap kata-kata jangan, dadah dan sebagainya.
  • Pada usia 18 bulan, anak tidak dapat menyebutkan 10 kata tunggal.
  • Sampai usia 20 bulan, anak tidak mengucapkan 3-4 kata.
  • Pada usia 21 bulan, anak tidak memberikan reaksi terhadap perintah (misal: duduk, kemari, berdiri).
  • Pada usia 24 bulan, anak tidak dapat menyebutkan bagian-bagian tubuh dan belum mampu mengetengahkan ungkapan yang terdiri dari 2 kata.
  • Setelah usia 24 bulan, anak hanya memiliki perbendaharaan kata yang sangat sedikit atau tidak memiliki kata-kata huruf z pada frase.
  • Pada usia 30 bulan, ucapan anak tidak dapat dimengerti oleh anggota  keluarganya.
  • Pada usia 36 bulan, anak belum dapat menggunakan kalimat-kalimat sederhana, belum dapat bertanya dengan menggunakan kalimat tanya yang sederhana, dan ucapannya tidak dapat dimengerti oleh orang di luar keluarganya.
  • Pada usia 3,5 tahun, anak selalu gagal untuk menyebutkan kata akhir (misalnya ‘ca’ untuk cat, ‘ba’ untuk ban, dan lain-lain).
  • Setelah usia 4 tahun, anak berbicara dengan tidak lancar (gagap).
  • Setelah usia 7 tahun, anak masih suka melakukan kesalahan dalam pengucapan.
  • Pada usia berapa saja terdapat hipernasalitas atau hiponasalitas (sengau atau bindeng) yang nyata atau memiliki suara yang monoton tanpa berhenti, sangat keras, tidak dapat didengar, dan secara terus-menerus memperdengarkan suara serak.

BAB III

CONCLUSION

Gangguan berbahasa dapat berupa keterlambatan berbicara. Keterlambatan bicara ini bias diketahui apabila anak tersebut berusia 10 bulan sampain 2 tahun yang tidak dapat berbicara kata-kata simple seperti “mama” atau “papa”. Hal ini dapat terjadi Karena beberapa factor interna dan eksternal seperti keturunan dan lingkungan social mereka sendiri. Gangguan bahasa bias berupa afasia dan gagap. Peran orang tua sangatlah berpengaruh apabila anak mereka mengalami gangguan bahasa ini. Orang tua harus mengetahui perkembangan bahasa anaknya karena jika merek menemukan adanya gangguan bahasa pada anaknya, anak tersebut langsung bias tertangani secara cepat.

THE PRODUCTION AND SALE OF CIGARETTES SHOULD BE ILLEGAL

Malang, 12 April 2013

Khafidhotun Nadliroh

Increasing health problems that caused by smoking, more and more people think that the production and sale of cigarettes should be made illegal. Smoking is no doubt brings harmful for people in its every ways. There is nothing good about the cigarettes so I agree with this statement. There are some reasons why the production and sale of cigarettes should be illegal.

The first, smoking cigarettes causes different kinds of cancer. The effects of smoking on human health are serious and in many cases that is deadly because of cancer. The fact is that cigarettes smoke contains over 4,000 chemicals, including 43 known cancer causing compounds and 400 other toxins. These include nicotine, tar, and carbon monoxide as well as formaldehyde, ammonia, hydrogen cyanide, and arsenic. The ingredients in cigarettes affect everything from the internal function of organs to the efficiency of the body’s immune system. A lot of smokers want to stop smoking cigarettes but they cannot stop it, due to their addiction to the chemicals in cigarettes.

The second, cigarettes also give bad effect to the children’s lungs because of cigarettes smoke. In fact, the chemicals that effect to the lungs are tar, nicotine, carbon monoxide, karsinogen, and iritan. Bronchitis and asthma are the lung diseases that are often found in children whose parents smoke. Research in the UK shows, children under the age of 1 year old whose mothers smoke more than 1 pack per day had a risk of bronchitis and asthma twice as high. Cigarettes also hamper the children’s lungs development. The lung capacities of children decrease 7 % if they are passive smokers, but if they are also smokers, their lung capacities decrease 25 %.

The third, the cigarettes give bad effects to the teenager’s future. Based on Litbang Depkes data in the 2003, showed that the consumers of cigarettes dominated by teenagers. Age started smoking in Indonesia which is highest in the age group 15 – 19 years as much as 63,7 %. They have stigma of smoking cigarettes that is cool. They also just want to have fun hiding their smoking habit. They totally don’t understand the bad effects of smoking. Then obviously, there are no such ways to stop their bad habits and stop smoking cigarettes. That is the only way to make sure our next generation have a better life.

From the third reason, the explanation of cigarettes can give bad effects to the teenager’s future, but there are another side that cigarettes help the smokers to get their creativities and inspiration. When they are smoking, their brains are relax and fresh. In example, Dimas Djayadiningrat who is a famous film director said that cigarette is one of his mates. Besides that, he can be more concentrate when he is smoking. Although he is in the crowded area, he can concentrate to direct a movie. Without smoking, he feels this world is nothing. So, he gets inspiration and explores his creativities about his movies or videos by smoking cigarettes.

Now you know that the production of cigarettes should be made illegal. Smoking cigarettes cause cancer, give bad effect to the lungs and the teenager’s future. All those things prove that the illegalization of the production and sale of cigarettes is the right choice.

Clothes tell a lot about persons

Malang, 12 April 2013

Khafidhotun Nadliroh

Clothes are very important for people. Clothes cover our bodies, protect the skin to the sun and sharp tools. Besides that, clothes show the people. Habit of wearing clothes can be judged to the people. We can know how the people by looking at their clothes. There are three perceptions that can be given to the persons by looking at their clothes.

The first perception is we can know about people’s personality by looking at their clothes. Formal and informal clothes show people’s attitude. Formal clothes show people who is discipline and responsible. In the job interview, the interviewed people must wear formal clothes to show their attitude. And the other side informal clothes show people who like enjoy situation. Looking at people’s personality also looks at their favorite color of clothes. People who like dark color of clothes show they are reserved and the closed nature. People who like bright color show they are cheerful.

The second perception is cloth tell about people status. People who always wear branded cloth show they are rich and glamor. People automatically judge that they are socialite community. Kebaya is clothes used by duchess in the past to distinguish their identity from common people. Now days kebaya can be used by all women in the certain time such as in the traditional ceremony.

The last perception is clothes show women’s life style. Women who always wear tidy clothes show that they are career women. Career women  must have good-looking because they have many relations. Their relations look at them from their appearance in the first time they met. Beside that women who always wear Moslem clothes show that they are religion. Most people judge those women always pray, join religion activities.

From that explanation above, there are three perceptions that are given to the persons by looking at their clothes. We can know about people’s attitude by looking at their clothes which are formal or informal, social status also can be showed by clothes and clothes tell about people’s life style. This is the other side of relationship between persons and their clothes that they use.